Selasa, 07 Oktober 2014

KEPEMIMPINAN



Mendefinisikan Kepemimpinan

            Selama bertahun-tahun, padangan kita mengenai apa kepemimpinan itu dan siapa yang dapat mempraktekkannya selalu berubah-ubah. Pada suatu waktu, keahlian kepemimpinan dianggap sebagai suatu bawaan sejak lahir. Pemimpin dilahirkan, dan bukannya diciptakan. Asumsi ini membimbing lahirnya teori kepemimpinan Great Man. Teori ini melihat kekuasaan ada pada sejumlah orang tertentu yang karena pewarisan dan keberuntungan membuat mereka menjadi pemimpin. Mereka yang dari keturunan tertentu dapat memimpin, sedang yang lainnya harus dipimpin. Tidak ada yang dapat mengubah takdir.
            Ketika gagal menjelaskan secara memadai tentang kepemimpinan, teori ini digantikan dengan teori Big Bang, yang diberangkatkan oleh argumen bahwa peristiwa besar membuat seseorang menjadi pemimpin, yang sebenarnya adalah juga manusia biasa. Teori ini menggabungkan situasi dan pengikut untuk membentuk pemimpin. Sebagaimana teori Great Man, teori Big Bang inipun menyajikan definisi yang tidak memadai. Sekarang, dalam kurun waktu yang tidak terganggu oleh Great Man ataupun Big Bang, kita memiliki kesempatan untuk menghargai para pemimpin kita sekaligus memikirkan esensi dari kepemimpinan.
            Kajian akademis tentang kepemimpinan dimulai pada sekitar tahu 1900. Fokus kajian ini masih pada beberapa sifat yang menjadi ciri atau karakter dari pemimpin-pemimpin besar dunia terutama para pemimpin heroik sebagaimana Gandhi, Martin Luther, Julius Caesar, hingga Washington ataupun Lincoln. Sejumlah sifat menonjol berhasil diidentifikasi semisal kharisma, daya persuasi, pandangan ke depan serta sejumlah kualitas tertentu yang menyertai pemimpin tersebut. Tetapi, seperti terlihat pada masa setelah itu, ratusan penelitian tentang pemimpin dan kepemimpinan telah gagal membuktikan bahwa setiap bakat atau kualitas tertentu itu secara konsisten berhubungan dengan kepemimpinan yang efektif.
            Benar sebagaimana yang ditulis Ralph Stogdill (1974) bahwa 'ada banyak definisi yang berlainan tentang kepemimpinan yang jumlahnya hampir sebanyak orang yang berusaha mendefinisikan konsep tersebut'. Dalam bukunya berjudul Handbook of Leadership :A Survey of Theory and Research, Stogdill mendefinisikan kepemimpinan '.......is the process of influencing group activities toward goal setting and goal achievement' (adalah proses mempengaruhi aktivitas kelompok dalam rangka perumusan dan pencapaian tujuan).
            Definisi ini memberi tekanan kepada proses perumusan tujuan disamping proses pengaruh dan pencapaian tujuan. Stogdill terlihat sangat menyadari bahwa keberlangsungan kepemimpinan selalu berawal dari kegiatan perumusan tujuan. Kesadaran ini membuatnya lalai bahwa perumusan tujuan kelompok itu memasuki wilayah manajemen. Artinya adalah, kalau yang terbicarakan manajemen maka pembicaraan itu harus terfokus pada topik organisasi. Kalau kepemimpinan fokus kajiannya melintasi problem organisasi, yakni kelompok. Begitu juga jika manajemen berkaitan dengan wewenang, maka kepemimpinan yang dibicarakan bukan lagi wewenang tetapi pengaruh
            Peneliti yang berbeda konsepsinya dengan Stogdill tentang kepemimpinan di antaranya adalah Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard (1977). Kedua peneliti ini terkenal dengan teori Kepemimpinan Situasional. Sesuai dengan temuannya, Hersey dan Blanchard mendefinisikan kepemimpinan sebagai ".........that leadership is the process of influencing the activities of an individual or a group in efforts toward goal achievement in a given situation." Kepemimpinan diartikan oleh Hersey dan Blanchard sebagai proses dalam mempengaruhi sejumlah kegiatan seseorang atau kelompok dalam usahanya mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Jadi berdasarkan definisi tersebut, akhirnya kepemimpinan itu akan terjadi apabila dalam situasi tertentu seseorang mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perseorangan maupun kelompok.
            Gary Yukl (2001) sebelum mempublikasikan definisinya tentang kepemimpinan, menyepakati Stogdill dengan membuat daftar sejumlah definisi sebagaimana yang telah dihasilkan oleh peneliti pendahulunya. Di bawah ini adalah sejumlah definisi kepemimpinan yang dikutip oleh Yukl dalam bukunya berjudul Leadership in Organization.
1.   Kepemimpinan adalah "perilaku individu....yang mengarahkan aktivitas kelompok untuk mencapai sasaran bersama" (Hemphill & Coons, 1957)
2.   Kepemimpinan adalah "pengaruh tambahan yang melebihi dan berada di atas kebutuhan mekanis dalam mengarahkan organisasi secara rutin" (D. Katz & Kahn, 1978)
3.   "Kepemimpinan dilaksanakan ketika seseorang.... memobilisasi ....sumberdaya institusional, politis, psikologis, dan sumber- sumber lainnya untuk membangkitkan, melibatkan dan memenuhi motivasi pengikutnya" (Burns, 1978)
4.  Kepemimpinan adalah "proses mempengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir untuk mencapai sasaran" (Rauch & behling, 1984)
5.   Kepemimpinan adalah proses memberikan tujuan (arahan yang berarti) ke usaha kolektif, yang menyebabkan adanya usaha yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan" (Jacobs & Jaques, 1990)
6.  Kepemimpinan "adalah kemampuan untuk bertindak di luar budaya....untuk memulai proses perubahan evolusi agar menjadi lebih adaptif" (E.H. Schein, 1992)
7.   "Kepemimpinan adalah proses untuk membuat orang memahami manfaat bekerja bersama orang lain, sehingga mereka paham dan mau melakukannya" (Drath & Palus, 1994)
8.  "Kepemimpinan adalah cara mengartikulasikan visi, mewujudkan nilai, dan menciptakan lingkungan guna mencapai sesuatu" (Richard & Eagel, 1986)
9.  Kepemimpinan adalah "kemampuan individu untuk mempengaruhi, memotivasi, dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi..." (House et.Al, 1999)
              Mempertimbangkan demikian banyak definisi kepemimpinan yang tidak jarang bahkan membingungkan, akhirnya Yukl dengan sangat hati-hati serta ingin lebih komprehensif mendefinisikan kepemimpinan dengan kalimat yang panjangnya melampaui definisi-difinisi lain. Definisi yang dikemukakan Yukl adalah bahwa kepemimpinan merupakan proses untuk mempengaruhi orang lain, untuk memahami dan setuju dengan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana itu dilakukan secara efektif, serta proses untuk memfasilitasi upaya individu dan kolektif demi pencapaian tujuan bersama.
              Tentu sejumlah definisi sebagaimana yang telah disajikan di muka muncul dari peneliti-peneliti sesuai perspektif dan ketertarikan perhatiannya. Tetapi, semua definisi tersebut kalau dicermati memiliki persentuhan satu dengan lainnya. Persentuhan itu terletak pada bahwa semua definisi kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan itu berkaitan dengan proses yang disengaja untuk mempengaruhi orang lain
            Berdasarkan acuan sejumlah definisi yang telah dipublikasikan oleh penulis-penulis terdahulu, maka kita mendifinisikan kepemimpinan sebagai serangkaian perilaku pemimpin dalam mempengaruhi untuk mengarahkan kegiatan kelompok menuju sasaran tertentu.
            Ada beberapa implikasi penting dalam definisi ini, yang pertama adalah bahwa kepemimpinan melibatkan orang lain di dalam kelompok. Dengan kesadaran orang lain untuk bersedia dipengaruhi dan diarahkan, maka anggota kelompok membantu menentukan status pemimpin dan memungkinkan proses kepemimpinan itu berlangsung. Singkatnya, tanpa adanya orang lain, segala macam kualitas kepemimpinan seseorang tidak relevan dibicarakan.
            Kedua, kepemimpinan selalu melibatkan atau bahkan mensyaratkan adanya kekuasaan. Tidak ada pemimpin tanpa kekuasaan. Kekuasaan merupakan sumberdaya yang dibutuhkan oleh seseorang pemimpin agar dapat mempengaruhi orang yang dipimpin. Dengan demikian maka keberhasilan kepemimpinan juga sangat ditentukan oleh kepemilikan kekuasaan dari seorang pemimpin. Kekuasaan yang kuat dengan berbagai sumber kekuasaan yang dimiliki pemimpin akan sangat berarti bagi pelaksanaan kepemimpinannya. Semakin banyak sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin akan semakin besar potensi kepemimpinannya yang efektif.
            Ketiga, kepemimpinan selalu terkait dengan proses pengaruh. Semua aktivitas seseorang pemimpin  pada dasarnya adalah mentranspormasikan gagasan dengan cara mempengaruhi orang lain. Seorang pemimpin tidak hanya secara sah memiliki otoritas memerintah pengikut, tetapi juga mempengaruhi cara pengikut mengerjakan sesebuah kegiatan kelompok. Seorang pemimpin dapat saja memerintah pengikut (bawahan) untuk mengerjakan tugas tertentu, tetapi mungkin pengaruhnya atas pengikutlah yang menentukan apakah tugas itu dilaksanakan dengan benar atau sebaliknya.
            Keempat, kata  kepemimpinan memberi penjelasan adanya tindakan tertentu yang terus-menerus dan terjaga konsistensinya sehingga terpola kedalam perilaku. Dalam kaitan ini, tindakan termaksud sudah menjadi perilaku obyektif atau terukur sebagaimana dilakukan oleh seorang pemimpin ketika berusaha mempengaruhi anggota kelompok yang dipimpinnya. Pengertian ini menjelaskan bahwa kepemimpinan merupakan rangkaian proses. Mungkin inilah sebabnya, Yukl (2001) mengatakan bahwa kajian kepemimpinan cenderung memberi penekanan pada aspek perubahan, sedangkan manajemen lebih menekankan status-quo.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar