Senin, 11 Oktober 2010

Psikologi Sosial 1

PSIKOLOGI SOSIAL







A. Akar Pemikiran

Sejarah perkembangannya dimulai ketika Plato (400 SM) mengatakan bahwa ada trikotomi jiwa manusia, yakni kecerdasan, kemauan dan perasaan. Aristoteles (generasi setelah Plato) berpendapat bahwa ilmu jiwa adalah terkait dengan semua gejala hidup. Semua makluk hidup memiliki jiwa. Semua hewan, tumbuhan dan manusia adalah makhluk yang memiliki jiwa.
Informasi yang muncul dari alenia di atas bermaksud untuk memberikan penegasan bahwa psikologi atau umum menyebutnya sebagai ilmu jiwa telah sejak lama ada. Berasal dari perkataan Yunani psyche yang berarti jiwa, dan logos berarti ilmu pengetahuan maka kemudian istilah psikologi tersebut memuat arti sebagai ilmu yang mempelajari sisi kejiwaan manusia sebagai individu. Penting untuk disadari bahwa manusia sebagai individulah yang menjadi titik sentral kajian psikologi, bukannya individu dalam konteks sosial.
Ahli Ilmu Jiwa dari Austria, Sigmund Freud (1856-1939) menemukan teori sadar dan bawah sadar dalam kejiwaan manusia. Freud memberikan penjelasan bahwa pikiran-pikiran, hasrat-hasrat serta sejumlah perasaan termasuk pada sesuatu yang disadari atau 'yang sadar'. Sedangkan dorongan-dorongan, nafsu-nafsu serta hasrat dan pikiran yang berpengaruh pada tindakan yang tidak disadari disebutnya sebagai 'bawah sadar. Ia katakan bahwa kehidupan manusia sadar itu ibarat gunung es. Yang tampak dan terasakan hanya 10%, sedang sisanya tenggelam dalam bawah sadar.
Perkembangan berikutnya adalah, ketika Gustave Le Bon (1841-1932) mengkaitkannya dengan massa sebagai sekumpulan orang yang cenderung memiliki jiwa, maka bersemailah perluasan kajian psikologi dari yang bersifat individual ke arah yang lebih luas yakni massa.
George Herbert Mead (1863-1931) adalah intelektual besar Amerika akhir abad ke-19 yang memberi sumbangan besar pada perkembangan pemikiran psikologi sosial melalu usahanya dalam mengkaitkan sosiologi dengan psikologi. Mead sangat dipengaruhi oleh teori evolusinya Darwin. Ia menerima prinsip Darwinis bahwa organisme individu manusia selalu terus menerus terlibat dalam usaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan bahwa hanya melalui proses inilah bentuk atau karakteristik organisme manusia mengalami perubahan yang berkesinambungan. Pikiran dan kesadaran manusia yang diyakini oleh Mead sebagai organisme yang keberlangsungannya memerlukan interaksi dengan lingkungannya inilah yang sejalan dengan asumsi Darwin yang memandang pertumbuhan manusia sebagai hal yang dituntun oleh proses evolusi alamiah.
Mengikuti asumsi Mead bahwa kegiatan hidup manusia dipenuhi oleh usahanya menyesuaikan diri dengan alam, maka mulailah psikologi sosial menampakkan dirinya secara agak jelas. Manusia sering dapat melewati prosedur dialektika trial and error yang biasanya terjadi dalam perjalanan beberapa generasi. Prosedur ini menempatkan lingkungan sebagai unsur penting. Lingkungan dengan pemahaman sebagai medan atau lapangan tempat terjadinya interaksi antar individu yang dari interaksi ini memungkinkan langkah perubahan yang menghasilkan mekanisme trial and error tersebut. Interaksi antar individu inilah yang bagi Mead menempatkan komunikasi sebagai kajian yang tidak terlepas dari psikologi sosial.
Sebagaimana komunikasi manusia yang meliputi penggunaan simbol, maka begitu pulalah proses berpikir manusia. Dalam pandangan Mead, hubungan antara komunikasi dengan kesadaran dan pikiran manusia adalah sedemikian dekatnya. Proses berpikir subyektif atau refleksi dapat dilihat sebagai sisi yang tidak kelihatan dari praktek komunikasi karena proses ini memberi penjelasan adanya tindakan bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Percakapan ini, sekalipun hanya dengan dirinya sendiri dan hanya di dalam dirinya sendiri sehingga tidak diketahui orang lain, tidaklah dapat terpisah dari keterlibatan-keterlibatan orang lain dalam hubungan sosialnya. Misalnya, dalam menggunakan percakapan orang akan mempersiapkan apa yang hendak dikatakannya dan bagaimana mengatakannya sebelum membayangkan reaksi yang dimunculkan oleh orang lain yang akan terlibat percakapan tersebut. Ini artinya adalah, sekalipun percakapan dengan diri sendiri, tetapi tetap saja peristiwa ini membuka keterlibatan orang lain dalam dunia gagasan manusia, dalam jiwa manusia.
Berpikir menurut Mead adalah suatu proses ketika individu berinteraksi dengan dirinya sendiri dengan mempergunakan simbol-simbol yang bermakna. Melaui proses interaksi dengan diri sendiri itu, individu memilih di antara stimulus yang tertuju kepadanya itu yang kemudian ditanggapinya. Individu dengan demikian tidak secara langsung menanggapi stimulus, tetapi terlebih dahulu memilih dan kemudian memutuskan. Stimulus tersebut datang dari luar diri individu yang memungkinkan mendapatkan tanggapan di dalam ruang jiwa individu untuk kemudian mempengaruhinya. Stimulus yang selalu datang dari luar diri individu itu sebenarnya datang dari dunia sosial manusia. Inilah yang kemudian secara terang benderang memunculkan pentingnya studi psikologi sosial.
Aspek psikologi dan aspek sosiologi pemikiran Mead bukanlah merupakan satu-satunya sumbangan intelektual Mead dalam perkembangan studi psikologi sosial. Mungkin Mead lebih seksama dari pada para pendahulunya dalam menegakkan suatu dasar filosofis yang kuat untuk memposisikan benih studi psikologi sosialnya sekaligus teori interaksi simboliknya. Suatu teori besar tentang pertukaran makna melalui simbol-simbol komunikasi yang dapat menghasilkan bangunan masyarakat.
Selain Mead, Charles Horton Cooley juga merupakan perintis psikologi sosial yang substansial. Judul karya terkenal Cooley adalah Human Nature and the Social Order, yang berisikan pendekatan teoritisnya yang mendasar. Kesimpulan utama, yang didapat Cooley yang dapat mengkaitkannya dengan studi psikologi sosial adalah bahwa kehidupan masyarakat itu terbentuk melalui interaksi dan komunikasi antar individu, atau individu dengan kelompok, bahkan kelompok dengan kelompok. Sementara itu, kesadaran bahwa individu manusia memiliki struktur kejiwaan dan begitu juga masyarakat memiliki hal yang sama, menimbulkan interaksi sosial yang saling mengkait yang menimbulkan suatu sistem di dalam masyarakat. Inilah yang kemudian melahirkan asumsi bahwa situasi atau dunia kehidupan sosial manusia itu dapat mempengaruhi kehidupan jiwa individu manusia. Jika demikian maka perkembangan individu itu berhubungan erat dengan lingkungan sosialnya, dengan masyarakatnya.
Titik inti dari sumbangan Cooley pada kajian psikologi sosial ini terletak pada adanya kesadaran subyektif dalam setiap individu. Setiap individu memiliki pengalaman personal yang menuntun individu yang bersangkutan pada sifat aktif dan kreatif. Sifat ini diiringi perasaan-perasaan individual, sentimen serta ide-ide akan menjadi faktor yang mendorong manusia untuk berinisiatif pada tindakan sosialnya. Tindakan sosial merupakan proses ketika individu terlibat dalam pengambilan keputusan subyektif terkait sarana dan cara untuk mencapai tujuannya melalui interaksinya dengan pihak lain. Dengan demikian maka tindakan sosial itu juga merupakan tindakan yang kecuali melibatkan pihak lain sekaligus harus bermakna baginya dan bagi pihak lain tersebut (meaningfull).

B. Pengertian

Dengan agak cermat melacak pemikiran sebagaimana diurai dalam sub-bab sebelum ini, maka secara sederhana dapat ditemukan pengertian psikologi sosial. Hal tak terbantahkan adalah bahwa studi ini merupakan hasil persentuhan psikologi dan sosiologi. Namun demikian, tidak lantas menjadikan ia dapat dipahami secara longgar dengan menempatkan sosiologi yang lebih mengedepan atau psikologi yang justru dikedepankan.
Dalam tradisi awalnya, memang dari tinjauan sosiologis, psikologi sosial ini berada di wilayah paradigma fakta sosial. Paradigma ini meyakini bahwa tingkah laku individu manusia itu ditentukan oleh fakta sosialnya. Bagian terbesar dari dunia kehidupan sosial, terutama terkait nilai, norma, sistem sosial, keluarga, hukum, dan kebiasaan dalam pemikirian Durkheimian digolongkan sebagai fakta sosial. Emile Durkheim (1858-1917) adalah sosiolog besar pelopor paradigma fakta sosial dalam sosiologi.
Asumsi dasar teori ini adalah bahwa tindakan manusia itu selalu ditentukan oleh fakta sosial yang hidup di masyarakatnya. Fakta sosial ini memiliki kekuatan untuk membentuk individu manusia. Manusia di posisi pasif dan hanya menerima fakta sosialnya dalam proses pembentukan dirinya. Dengan demikian maka, pengakuan kepada psikologi komunikasi diikuti oleh pengertian bahwa cabang ilmu baru ini merupakan telaah tentang efek psikologis individu manusia atas situasi sosialnya. Dalam pengertian ini, penganut paradigma fakta sosial sangat yakin bahwa individu merupakan produk masyarakat. Karenanya, Psikologi Sosial memiliki bidang kajian yang lebih ditekankan pada bagaimana masyarakat mempengaruhi jiwa individu manusia.
Mengedepankan masyarakat sebagai pemroduk individu, sebenarnya sama halnya dengan keyakinan bahwa masyarakat sebagai gejala sosial itu tidaklah bisa dibahas oleh psikologi melainkan merupakan bahasan sosiologi. Masyarakat itu bentukan kesadaran kolektif dan bukannya individual. Masyarakat itu terdiri dari kelompok-kelompok, terdiri dari kolektifitas manusia dan bukannya terdiri dari individu-individu yang kemudian penjumlahannya menghasilkan masyarakat.
Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian psikologi sosial menjadi lebih lunak dalam arti lebih membuka diri untuk berkompromi dengan kenyataan bahwa sekalipun masyarakat memiliki kekuatan dalam 'membentuk' individu, tetapi harus diakui bahwa jiwa individulah yang membawa manusia menjadi sebagai makhluk berpikir. Sebagai makhluk berpikir tentu individu manusia memiliki kekuatan gagasan yang diarahkan kepada keadaan sebagaimana tujuan hidupnya.
Manusia memiliki jiwa individu (individual mind), begitu juga kelompok (group mind). Keduanya berinteraksi saling tergantung dan saling mempengaruhi yang gerakan interaksi itu secara terus menerus menghasilkan konstruksi masyarakat. Secara bergantian dengan demikian masyarakat dan individu dapat saling membentuk. Atau, secara lebih singkat dapat dijelaskan bahwa masyarakat dan individu merupakan satu kesatuan yang saling mengkonstruksi.
Dalam keyakinan ini, psikologi sosial mengarah pada pengertian sebagai bagian dari ilmu sosial terutama psikologi yang memiliki fokus kajian berupa psikologi individu dalam situasi atau konteks sosial. Artinya, dalam psikologi sosial, tekanan kajiannya terletak kepada psikologi individu manusia dalam kaitan manusia sebagai makhluk sosial. Artinya, ada keyakinan bahwa psikologi sosial memiliki wilayah kajian tentang bagaimana individu manusia berproses mempengaruhi masyarakatnya. Sekedar mengingatkan, manusia sebagai makhluk sosial adalah manusia yang dalam menjalani hidupnya selalu melakukan kontak dengan manusia lainnya. Interaksi antar manusia ini menjadi prasyarat hidup manusia.
Masih ada sejumlah pengertian atau definisi tentang psikologi sosial yang dapat ditampilkan di sini, semisal sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia; sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam hubungannya dengan situasi perangsang sosial; sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu dalam masyarakat dan lain sebagainya. Sejumlah pengertian tersebut dikemukakan para peneliti terdahulu yang kurang penting disebutkan di sini. Menyimpulkan dari pengertian-pengertian di atas kita akan mendapatkan titik persamaannya yakni pada tingkah laku individu dan masyarakat. Hanya sedikit pengertian yang menyertakan psikologi dalam kaitan tingkah laku individu. Padahal, sangat eksplisit cabang ilmu ini menempatkan psikologi sebagai ilmu tentang jiwa manusia di depan kata sosial. Jadi dengan demikian maka sebenarnyalah Psikologi Sosial itu sebagai cabang ilmu psikologi yang melakukan kajian sosial. Sebagai pegangan dalam bahasan-bahasan selanjutnya maka dalam buku ini Psikologi Sosial diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang jiwa individu manusia di dalam konteks sosial. Konteks sosial dalam kaitan ini adalah situasi sosial masyarakat. Sedangkan titik tekannya adalah telaah tentang kejiwaan individu ketika ia hidup bermasyarakat.
Psikologi sosial memberikan informasi penting tentang bagaimana faktor-faktor sosial mempengaruhi pemikiran, perasaan dan tindakan individual. Ia akan tumbuh tanpa kehilangan identitas khasnya sebagai bidang yang memberikan perhatian pada detail dari pengaruh interpersonal. Kajian tentang masyarakat tidak mungkin dilakukan tanpa meletakkan perhatian pada proses-proses kognitif dan motivasional dari individu-individu anggota kelompok.

C. Obyek Studi

Jika mengacu pada pengertian Psikologi Sosial sebagaimana yang menjadi pegangan dalam buku ini, maka kajian cabang ilmu ini berfokus pada (1) sisi kejiwaan dari individu manusia, dan (2) konteks sosial di mana manusia itu hidup. Fokus yang kedua dapat diartikan sebagai masyarakat dalam bentuk kolektivistiknya. Sedangkan yang pertama merupakan sisi individualistiknya.
Pengamatan atau kajian terhadap sisi kejiwaan manusia sebagai individu menyertakan sisi-sisi unik dari narasi dibalik tindakan. Manusia dilihat sebagai makhluk yang memiliki dunia gagasan, dunia abstrak yang sulit terlacak oleh penginderaan sesuai panca indera manusia kecuali dengan memahami dunia pemahamannya sendiri. Ini berarti bahwa individu manusia memiliki 'bagian dalam' yang harus dilihat dari aspek fenomena psikis yang tidak muncul bahkan adakalanya tidak tergambarkan dalam tindakan dan perilakunya. Hal ini terkait dengan keunikan individu manusia sebagai makhluk yang berpikir.
Manusia sebagai makhluk berpikir tentu memiliki kebebasan dalam bertindak bahkan seakan-akan tidak terbatas dan tanpa kendali. Ia merupakan makhluk aktif, kreatif sekaligus evaluatif dalam memilih tindakannya untuk mencapai tujuan-tujuannya. Hanya 'bagian dalam' itulah yang dapat menuntun sekaligus menjadi sumber dari tindakan manusia. Orang hanya akan mampu berkarya, memulai sesuatu untuk kemudian menciptakan sesuatu karena 'bagian dalam'nya itu. 'Bagian dalam' adalah bagian tak teraba namun dapat dirasakan sebagai suatu realitas fenomena psikis.
Fenomena psikis menghasilkan tindakan sosial yang di antaranya adalah agresi dan kemarahan, altruisme, sikap persuasif, ketertarikan dalam hubungan sosial, atribusi, negosiasi, kerjasama dan persaingan, kepemimpinan dan kinerja kelompok, kepatuhan, prasangka, dan motiv-motiv. Dalam Psikologi Sosial, hal-hal tersebutlah yang meng-antara-i kita dapat melihat 'bagian dalam' individu manusia. Sejumlah tindakan sosial tersebut tentu perwujudannya dapat ditangkap indera setelah 'bagian dalam' itu bersentuhan dengan bagian luar yang berupa dunia kehidupan sosial manusia.
Obyek kajian tentang dunia kehidupan sosial ini menempatkan manusia sebagai individu yang tidak terlepas dari lingkungan sosialnya. Interaksi sosial individu yang demikian kompleks akan memunculkan bentuk-bentuk perilaku. Jika manusia memiliki individual mind, sebagaimana telah disinggung di depan, dunia sosialpun memiliki group mind mengingat dunia sosial itu merupakan kolektivitas atau kelompok yang terdiri dari individu-individu. Masing-masing mind di balik tindakan dan perilaku individu maupun kelompok sangatlah kompleks dipahami. .
Kompleksitas manusia inilah yang sejak dulu sudah menjadi bahasan psikologi karena salah satu tugas ilmu ini adalah memahami individu dalam kelompok sosialnya, memahami motiv-motiv tindakan dan perilaku serta mencoba meramalkan respons manusia agar dapat memperlakukan manusia sebaik-baiknya. Jangkauan paling luas dari Psikologi Sosial adalah memahami kapasitas individu manusia dalam perilaku kelompok atau masyarakat sampai pada kemungkinannya dapat memanipulasi perilaku tersebut. Itulah sebabnya, sebelum memasuki pembahasan tentang dunia sosial manusia, dipandang memadai jika dibahas dulu sisi kejiwaan individu manusia.
Bahasan dalam Bab 2 difokuskan pada sisi kejiwaan atau 'bagian dalam' dari manusia. Sisi ini dibahas karena memiliki perkaitan dengan dunia kehidupan sosial melalui tindakan-tindakan individu. Barulah setelah pembahasan tentang sisi kejiwaan individu kemudian dilanjutkan dengan pembahasan terkait dunia kehidupan sosial yang meliputi interaksi sosial, kelompok, masyarakat, dan kebudayaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar